Pemilu Yang Berkualitas Melahirkan Pemimpin Yang Berkualitas

Pemilu Yang Berkualitas Melahirkan Pemimpin Yang Berkualitas
Rektor Universitas Cenderawasih Jayapura, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST, MT berpose bersama dengan istrinya dan keluarganya usai dilantik menjadi Rektor Uncen Periode 2017-2023

LODARKOU.COM, JAYAPURA – Rektor Universitas Cenderawasih Jayapura, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST, MT, mengatakan, guna menghasilkan pemimpin yang berkualitas itu hanya bisa terjadi melalui pemilu yang berkualitas.
Sebab itu, diharapkan kepada penyelenggara Pemilu, khususnya Pilkada gubernur/wakil gubernur Papua Tahun 2018 ini, agar dapat melaksanakan 4 hal ini.

Pertama, menyelenggarakan sistem pemilu secara baik. Sistem yang menyangkut aturan pelaksana pemilu, berupa UU pemilu, PP, dan PKPU.
“Pada aturan-aturan itu sangat jelas disebutkan tata cara/teknis pelaksanaan pemilu,” katanya kepada Lodarkou di kediamannya, Sabtu, (5/1).

Kalau sistimnya baik, maka didapatkan hasil yang baik, namun, apabila aturan didesain demi memenangkan kandidat tertentu, sudah pasti kualitas pemilupun tidak buruk.

“Oleh karena itu, penting sekali pada saat penyusunan perundangan sampai pada teknis pelaksanaannya itu harus dilandasi pada nilai-nilai yang baik,” ujarnya.

Hal kedua yang sangat penting adalah kejujuran dan sikap adil para penyelenggara Pemilu itu sendiri, mulai dari tingkat KPU Pusat, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/kota hingga petugas PPS/TPS. Apakah penyelenggara ini mampu berdiri berpegang pada aturan?

Tak kalah menariknya untuk diperhatikan disini sikap para kandidat dan pendukungnya, dan Partai Politik (Paprol) pengusungnya. Apakah para kandidat dapat tampilkan sikap saling menghormati sesama kandidat dan dapat mengarahkan pendukungnya untuk tidak melakukan kampanye hitam terhadap pasangan calon yang lain.

“Namun jika para kandidat melakukan berbagai cara untuk memenangkan konstentasi, maka sudah jelas hasil pemilupun menuai masalah karena hasilnya tidak membawa damai di hati rakyat,” imbuhnya.

Catatan penting lainnya, ialah para Vooter. Pemilih harus cerdas dalam melihat/menilai kandidat dengan melihat rekam jejak kehidupan dan karir para kandidat, bukan melihat dari janji-janji kampanye saja, dan pemilih harus mampu membaca apakah visi misi kandidat bisa dilaksanakan atau tidak saat terpilih.

Terpenting disini, vooter hendaknya memilih dengan hati nurani, tidak diintervensi dan tidak dipaksa atau digiring opininya untuk satu kandidat tertentu.

Soal money politik, sudah tentunya pasti ada, bahkan ini dimulai sejak pembentukan aturan, sampai pada perhitungan perolehan suara kandidat. Ini bisa saja terjadi pada penyelenggara, pada kandidat dan parpol.

“Pada tingkat penyusunan regulasi, biasa saja ada orang yang bermain agar aturan yang dibuat sesuai dengan keinginan mereka,” tukasnya.

Disampaikannya, agar bisa terpilih, para kandidat harus memiliki 4 Tas. Yakni, Popularitas (dikenal), aksebtabilitas (dapat diterima publik), elektabilitas (peluang keterpilihan) dan isi tas (cost politic).

“Kalau kandidat sudah dikenal, diterima publik dan memiliki peluang untuk dipilih maka sudah pasti kandidat itu mudah memenangkan konstentasi. Tentunya ada berbagai cara untuk meningkatkan popularitas, baik melalui perbuatan baiknya, kampanye, sifatnya, dan nilai-nilai krama yang baik lainnya,” bebernya.(Rel)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

Show Buttons
Hide Buttons